top
logo
Ph :+62 22 727 2416, +62 22 70567946-47 Fax:+62 22 723 1276 VoipRakyat(www.voiprakyat.or.id) : 81155 Email:homecare@griyakami.com

Log In



Peta Griyakami Homecare


Silahkan klik My Saved Places untuk melihat peta menuju Griyakami Homecare

Potensi statin untuk berbagai penyakit syaraf PDF Print E-mail
Monday, 07 December 2009 04:38

Statin, sebagai obat yang paling sering diresepkan untuk mencegah penyakit kardiovaskular, disuga kuat memiliki manfaat tambahan sebagai antioksidan, anti-inflamasi, dan antiplatelet. Dari sini maka ada bukti bahwa statin berpotensi mengobati penyakit-pnyakit syaraf. Tidak hanya stroke, tetapi juga penyakit syaraf lain seperti Alzheimer, parkinson, multipel sklerosis, dan tumor otak primer.

Statin adalah obat di lini pertama untuk mencegah penyakit kardiovaskular dan aterosklerosis terkait hiperkolesterolemia. Meskipun dislipidemia bukan merupakan faktor risiko langsung dari stroke , namun ada data yang menunjukan bahwa insiden stroke menurun secara signifikan dengan pemberian statin. Berbagai penyakit syaraf yang bisa dicegah dengan statin diantaranya :

Stroke

Penelitian yang melibatkan ratusan ribu pasien, yaitu Multiple Risk Factor Intervention Trial (MRFIT), melaporkan ada kaitan positif antara kenaikan kolesterol dengan kematian akibat stroke iskemia. Penelitian lain kemudian dilakukan untuk melihat apakah statin bisa mencegah kekambuhan stroke, yaitu The Stroke Prevention by Aggressive Reduction in Cholestrol Level (SPARCL). Ternyata dari penelitian ini terlihat bahwa stroke (fatal maupun nonfatal) menurun secara signifikan himgga 16% dengan terapi atorvastatin. Dari penelitian ini kemudian disarankan agar pasien dengan riwayat stroke harus diterapi dengan lebih agresif dengan statin agar upaya mencegah stroke ulangan lebih optimal.

Bagaiman mekanisme kerja statin sehingga bisa menurunkan insiden stroke? Penjelasannya adalah, statin bisa membuat plak aterosklerosis lebih stabil. Plak yang stabil tidak mudah pecah atau ruptur sehingga kemungkinan pecahan plak akan lari ke otak dan menyumbat pembuluh darah diotak sehingga terjadi stroke, bisa dicegah. Penjelasan lain adalah, statin bisa mencegah penggumpalan darah, atau bisa bertindak sebagai anti-platelet.

Demensia/Alzheimer

Demensia atau Alzheimer Disease (AD) merupakan penyakit neurodegeneratif yang dikarakteristikan dengan munculnya plak di permukaan otak yang komposisinya terdiri dari B-amiloid (AB). Ada bukti bahwa kadar kolesterol berkaitan dengan AD. Peningkatan kadar kolesterol dalam sel kemungkinan akan berdampak pada produksi AB. Pada penelitian model binatang, diet kaya kolesterol berkaitan dengan peningkatan deposit AB dalam sel syaraf dan membentuk formasi plak. Hal ini akan menurun saat kolesterol ditiadakan dalam diet.

Observasi-observasi yang sudah pernah dilakukan menduga bahwa penurunan kolesterol dengan statin memiliki manfaat untuk AD. Misalnya, ada penurunan 60-73 kejadian yang dicurigai AD pada pasien yang menggunakan loverstatin atau pravastin dibandingkan obat-obatan untuk penyakit kardiovaskular lainnya. Penelitian lain menunjukan, pasien yang menggunakan statin mengalami penurunan diagnosa AD sebesar 71% dibandingkan kelompok pembanding.

Parkinson

Statin bisa menurunkan kadar koenzim Q10 (CoQ10) yang merupakan komponen kunci pada rantai transportasi elektron di mitokondria. Tak hanya itu, CoQ10 juga merupakan antioksidan. Pada pasien penderita penyakit Parkinson, kadar CoQ10 di darah dan platelet mitrokondria menurun. Statin tidak memperburuk Parkinson, tetapi kemungkinan memiliki peran dalam mengurangi kejadian wearing-off, diskinesia dan demensia pada penderita parkinson. Potensi anti-inflamasi statin kemungkinan bisa dimanfaatkan untuk terapi parkinson karena inflamasi ikut berkontribusi dalam etiologi parkinson.

Ada satu penelitian yang menunjukan bahwa statin bisa membalikan hilangnya aktivitas dopamine secara lengkap dan menurunkan radikal bebas. Penjelasan lain adalah, statin bisa mencegah penggumpalan darah, atau bisa bertindak sebagai anti-platelet.

Multiple Sclerosis (MS)

MS adalah penyakit sistem syaraf pusat yang multifase, merupakan penyakit autoimun dan inflamasi. MS terjadi akibat demielinasi sel-sel saraf otak dan tulang belakang. Meskipun baru sebatas penelitian pada binatang, statin bisa bertindak sebagai imunomudulator sehingga kemungkinan bisa bermanfaat untuk mengatasi penyakit neuroinflamasi seperti MS. Statin bisa menjadi kandidat terapi MS yang menarik melengkapi obat untuk MS yang kini tersedia yaitu interferon-beta, glatiramer asetat dan mitoksantrone yang semuanya memiliki efek samping.

Potensi statin sebagai penguat sistem imun ditemukan tahun 1995. Saat itu pasien transplantasi jantung yang diterapi dengan salah satu jenis statin mengalami penurunan insiden episode penolakan hemodinamik secara signifikan. Akibatnya, terjadi penurunan kematian yang tidak terkait dengan penurunan kolesterol. Artinya, ada potensi tambahan statin diluar manfaatnya sebagai antikolesterol. Penelitian-penelitian besar kemudian dilakukan untuk menguji potensi imunimudulator statin.

Efek imunomudulator statin terlihat dari kemampuan menghambat aktivitas sel sebagai pembunuh secara alami, mengurangi adesi leukosit endotel, menghambat CD40 dan adesi molekul serta memblokade fungsi limfosit yang berkaitan dengan stimulasi anti gen. Statin juga menghambat pelepasan faktor-faktor proinflamasi. Penemuan inilah yang akhirnya mendorong kemungkinan penggunaan statin untuk penyakit-penyakit inflamasi sel saraf seperti MS.

Tumor Otak Primer

Statin juga menjajikan untuk mencegah keganasan di sistem saraf pusat. Efek statin sebagai anti pembelajaran, anti tumor, dan pemicu apoptosis (bunuh diri sel terprogram) adalah mekanisme di balik potensi statin untuk pengobatan tumor otak. Glioma adalah salah satu bentuk tumor otak ganas yang paling sering ditemukan. Dalam sebuah penelitian, penambahan statin pada sel-sel gliomablastoma bisa menekan pertumbuhan sel-sel kanker.


 

bottom

Powered by Joomla!. Designed by: Joomla 1.5 Template, .com.cn domain. Valid XHTML and CSS.