Log In
| Benarkah Statin Menyebabkan Demensia? |
|
|
|
| Monday, 07 December 2009 05:55 |
|
Demensia Damensia menjadi isu kesehatan yang cukup menyedot perhatian. Hal ini sebagai dampak meningkatnya populasi lanjut usia. Diperkirakan hingga tahun 2050 akan ada peningkatan kasus demensia hingga empat kali lipat di seluruh dunia. Demensia bukan penyakit yang spesifik. Demensia sebenarnya merupakan kumpulan gejala pada kemampuan intelektual dan sosial yang berdampak pada terganggunya aktivitas sehari-hari. Secara umum, demensia adalah penyakit akibat hilangnya memori atau daya ingat, sehingga sering juga disebut “pikun”. Namun tidak semua hilangnya daya ingat adalah demensia. Pada demensia, setidaknya harus ada dua fungsi otak yang bermasalah. Selain hilangnya memori juga disertai dengan gangguan bahasa. Penderita demensia akan merasa bingung dan tidak bisa mengingat hal-hal sederhana, seperti nama-nama orang yang ia kenal. Perubahan kepribadian yang akan berdampak pada terganggunya kehidupan sosial juga akan dialami penderita demensia. Ada berbagai jenis demensia, yang paling umum ditemui adalah penyakit Alzheimer (AD). Gejala-gejala demensia tergantung dari penyebabnya. Gejala yang umum ditemui diantaranya hilangnya memori, kesulitan berkomunikasi, tidak mampu menyerap atau mengingat informasi baru, tidak mampu membuat rencana, kesulitan dalam koordinasi fungsi-fungsi motorik, perubahan kepribadian hingga tidak mampu bereaksi. Gejala lain yang kadang menyertai adalah paranoid, mudah tersinggung dan mengalami halusinasi. Banyak faktor yang menyebabkan demensia. Penyakit ini tidak selalu disebabkan oleh penyakit. Alzheimer misalnya. Terjadi dengan sendirinya, bukan akibat dari suatu penyakit. Sampai saat ini belum bisa dijelaskan kenapa penyakit tertentu berkaitan dengan demensia. Demensia maupun AD dan penyakit serebrovaskular memiliki beberapa kesamaan faktor risiko seperti usia, riwayat keluarga, disiplidemia, hipertensi, dan obesitas. Studi-studi berbasis populasi sudah mengindikasikan bahwa peningkatan kadar kolesterol, terutama di usia pertengahan, berkaitan dengan resiko AD di usia senja. Usia dan riwayat keluarga adalah dua faktor resiko yang tidak bisa diubah. Sedangkan faktor resiko lain seperti konsumsi alkohol, penyakit aterosklerosis, kadar estrogen tinggi, dan merokok bisa dikendalikan. Penumpukan lemak dan substansi lain didinding pembuluh darah arteri (plak) atau aterosklerosis merupakan faktor risiko yang signifikan untuk perkembangan demensia. Aterosklerosis mempengaruhi aliran darah ke otak dan bisa menyebabkan stroke. Dari hasil penelitian di temukan ada kaitan antara aterosklerosis dengan penyakit Alzheimer. Tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah juga beresiko menyebabkan demensia, yang disebut demensia vaskular. Kadar LDL Atau kolesterol “jahat” yang tinggi juga bisa meningkatkan resiko demensia vaskular dan penyakit Alzheimer. Dengan demikian pengendalian kolesterol seharusnya bisa mencegah penyakit demensia. Kolesterol bisa diturunkan dengan diet, olahraga, dan obat-obatan terutama dari golongan statin. Namun ada penelitian yang menyatakan bahwa statin justru meningkatkan risiko demensia. Sudah ada beberapa studi observasional yang melaporkan tingkat kejadian demensia dan AD diantara pengguna statin. Namun, studi observasional lain dan studi kohort prospektif tidak menemukan kaitan yang signifikan.
Statin Mencegah Demensia
Data epidemiologi menunjukanada hubungan antara kolesterol dan demensia. Aterosklerosis dan hiperkolesterolemia merupakan fakta resiko penting untung demensia. Penelitian menunjukan, peningkatan kolesterol diusia pertengahan akan bedampak pada gangguan kognitif di masa tua. Sehingga menurunkan kadar kolesterol bisa mencegah terjadinya demensia. Penelitian juga mengindikasikan bahwa penggunaan statin bisa menurunkan kejadian demensia atauAlzheimer. Statin sudah banyak dibuktikan dalam menurunkan moralitas penyakit kardiovaskular dan stroke. Penelitian menduga ada beberapa mekanisme dimana kolesterol terlibat dalam patofisiologi atau perjalanan AD. Secara patologis, AD dikarakteristikan dengan adanya penumpukan atau deposit plak ekstraseluler yang mengandung ?-amiloid (A?) dan akumulasi kerusakan neurofibril yang mengandung hiperfosforilisasi protein. Yang menarik, ada bukti pendukung mengatakan bahwa kolesterol kemungkinan berperan dalam produksi A?. Dengan kata lain kolesterol berperan dalam patofisiologi AD. Keterlibatan kolesterol dalam patologi AD juga didukung oleh beberapa studi otopsi. Di penelitian-penelitian invitro maupun model binatang, kolesterol mengubah proses amyloid precursor protein (APP) dan produksi A?. Penurunan kolesterol dengan statin juga disertai penurunan proses APP dan produksi A?. Penurunan APP dan A ? kemungkinan barkaitan dengan perbaikan fungsi kognitif dan tingkah laku pada penderita AD, dan berpotensi menghambat progresivitas penyakit. Dari mekanisme ini maka diduga bahwa selain menurunkan lipid, statin juga bisa mencegah demensia melalui efek langsungnya sebagai anti aterosklerosis, neuroprotektif, atau properti antioksidan. Bukti-bukti laboratorium tentang keterlibatan kolesterol dalam produksi amiloid, yang kemudian menjadi endapan neurotoksik, bersama dengan bukti epidemiologi menduga bahwa obat penurun kolesterol statin bisa bermanfaat mencegah progresivitas penyakit ini. Melalui sebuah analisis, prevalensi demensia pada pasien yang menerima atau tidak menerima statin dibandingkan. Ternyata ditemukan bahwa kemungkinan seorang pasien yang menerima statin untuk mengalami demensia selama masa penelitian adalah 60% lebih rendah dibandingkan populasi, serta 73% lebih rendah dibandingkan pasien yang menerima pengobatan dengan obat-obat kardiovaskular selain statin. Dalam sebuah penelitian di Inggris, orang yang diresepkan statin memiliki 70% lebih rendah risiko demensia, dibandingkan mereka yang tidak memiliki hiperlipidemia atau mereka yang tidak sedang menggunakan obat penurun lipid. Dua penelitian lainnya juga melaporkan bahwa statin berkaitan dengan resiko rendah demensia dan kerusakan kognitif. Meskipun begitu, adapula penelitian yang menyatakan tidak ada kaitan antara statin dengan perubahan fungsi kognitif. Penelitian-penelitian yang hasilnya tidak konsisten ini kemudia mendorong dilakukannya penelitian-penelitian baru yang lebih intensif. Salah satunya dilakukan oleh DR. Gail Li dan koleganya dari Departements of Psychiatry and Behavioral Science, di settle, Amerika Serikat. Dr.Li melakukan penelitian untuk menilai kaitan antara terapi statin dengan risiko penyakit Alzheimer. Data yang digunakan adalah data penggunaan statin dan insiden demensia. Ada 2356 orang yang dilibatkan. Mereka memiliki fungsi kognitif masih baik dan sebagian pasien menggunakan statin atau obat penurun lipid lainnya. Mereka berusia 65 tahun atau lebih. Ternyata tidak ditemukan kaitan yang signifikan antara penggunaan statin atau obat penurun lipid lain dengan penurunan atau kenaikan risiko demensia atau kemungkinan demensia.
Atorvastatin untuk Demensia Penelitian Alzheimer's Disease Cholesterol-Lowering Treatment (ADCLT) dilakukan untuk menguji apakah skor Alzheimer's Disease Assessment Scale Cognitive (ADAS-cog) yang diperoleh setelah terapi atorvastatin selama 6 bulan dipengaruhi oleh keparahan kerusakan kognitif, kadar kolesterol sirkulasi, dan juga apoE4. ApoE merupakan faktor risiko genetik untuk penyakit Alzheimer. Ada beberapa bentuk ApoeE atau disebut Allel, namun bentuk yang tersering adalah ApoE2, ApoE3, dan ApoE4. Berdasarkan penelitian, ApoE4 adalah faktor risiko paling kuat untuk Alzheimer. Gen ApoE ditemukan di kromosom 19, dan gen ini mengkode protein yang ikut membantu membawa kolesterol ke aliran darah. Hasil studi menunjukan bahwa memang ada efek positif yang signifikan dalam performa ADAS-cog yang terjadi selama 6 bulan terapi atorvastatin dibandingkan plasebo. Efek positif ini lebih menjajikan pada penderita yang memiliki skor MMSE (Mini-Mental State Examination) tinggi, kadar kolesterol diatas 200 mg/dl atau jika mereka memiliki apoE4 dibandingkan pasien yang tidak menunjukan respon dengan atorvastatin. Maka studi ini menyimpulkan, terapi dengan atorvastatin bermanfaat untuk terapi Alzheimer ringan-sedang, namun seberapa besar manfaatnya bisa di prediksikan sejak awal terapi, yakni tergantung pada apoE4 masing-masing penderita dan apakah pasien mengalami peningkatan kadar kolesterol. Hasil positif dalam skor ADAS-cog terjadi pada penerima atorvastatin dibandingkan plasebo tanpa menghiraukan kadar kolesterol sirkulasi. Tetapi efek yang lebih kuat jelas terlihat pada pasien yang sejak awal memang mengalami kenaikan kadar kolesterol di atas 200 mg/dl dibandingkan pada pasien yang kadar kolesterolnya rendah. Lagi-lagi mendukung pendapat tentang peran kolesterol pada AD. Studi ADCLT menyatakan bahwa menurunkan kadar kolesterol sirkulasi amat bermanfaat dalam terapi Alzheimer. Terbukti penurunan kolesterol dengan atorvastatin 80 mg sehari diikuti perbaikan secara signifikan dalam skor ADAS-cog setelah 6 bulan terapi. Selain itu dilaporkan bahwa rata-rata skor MMSE adalah 2 poin lebih tinggi pada individu di kelompok atorvastatin. Hasil tersebut konsisten dengan pendapat yang diyakini selama ini bahwa semakin awal terapi AD dilakukan, hasil akhirnya semakin baik. Konsep terapi untuk AD adalah bila secara klinis ditemui adanya kerusakan kognitif ringan (Mild cognitive impairment/MCI) yang merupakan tahap transisi menuju kerusakan secara luas yang diyakini sebagai AD. Oleh karena itu amat jelas jika semakin cepat pasien AD diterapi dengan obat maka hasil akhir semakin baik. Termasuk untuk terapi dengan atorvastatin, dimana manfaatnya diperoleh pada intervensi di tahap MCI.
|
| Last Updated on Monday, 07 December 2009 07:14 |



